Perkuat Pengembangan Atsiri Indonesia Timur, Unima dan ARC-USK Teken Implementation Agreement

MINAHASA – Universitas Negeri Manado resmi menjalin kerja sama dengan Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala melalui penandatanganan Implementation Agreement (IA) yang dilaksanakan di lingkungan kampus Unima, Tondano, Rabu (17/9/2025). Kegiatan tersebut turut dirangkaikan dengan pemaparan materi oleh Kepala ARC-USK, Syaifullah Muhammad, yang hadir sebagai narasumber utama.

Pertemuan dihadiri jajaran pimpinan universitas, mulai dari wakil rektor, ketua senat, para dekan, ketua jurusan dan program studi, hingga pengelola Atsiri Business Center (ABC) Unima, Arrijani dan James. Sementara itu, Rektor Unima berhalangan hadir karena sedang menjalankan tugas di Jakarta.

Penandatanganan IA menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi pengembangan riset, hilirisasi, dan komersialisasi produk atsiri, khususnya tanaman nilam. Kerja sama ini diharapkan mampu membuka peluang pengembangan industri atsiri di kawasan Indonesia Timur berbasis inovasi perguruan tinggi.

Dalam sesi pemaparannya, Syaifullah Muhammad menjelaskan perjalanan Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala dalam membangun ekosistem industri nilam Aceh selama lebih dari satu dekade. ARC-USK disebut berhasil mengintegrasikan riset, pengembangan teknologi, hingga komersialisasi produk turunan nilam yang memiliki nilai tambah tinggi.

Ia menjelaskan bahwa inovasi yang dikembangkan ARC-USK tidak hanya berfokus pada penelitian laboratorium, tetapi juga mendorong hilirisasi produk serta pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan UMKM berbasis minyak atsiri.

“Pengembangan nilam tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi bagaimana menghasilkan produk turunan yang bernilai ekonomi tinggi dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya dalam pemaparan.

Menurutnya, pendekatan kolaboratif antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan pengembangan industri nilam di Aceh. Model tersebut dinilai dapat direplikasi di berbagai daerah lain yang memiliki potensi sumber daya hayati, termasuk Sulawesi Utara.

Dalam kesempatan itu, Syaifullah Muhammad juga mengajak Unima untuk mengambil peran sebagai pusat pengembangan nilam dan atsiri di kawasan Indonesia Timur. Potensi sumber daya alam serta dukungan akademik dinilai menjadi modal penting bagi Unima untuk mengembangkan inovasi riset dan bisnis atsiri secara berkelanjutan.

Pihak Unima menyambut positif kerja sama tersebut dan berharap kolaborasi bersama ARC-USK dapat memperkuat kapasitas riset, pengembangan teknologi, serta pengelolaan bisnis berbasis komoditas unggulan daerah.

Melalui penandatanganan Implementation Agreement ini, kedua institusi diharapkan dapat membangun sinergi jangka panjang dalam pengembangan penelitian, pelatihan, hilirisasi produk, hingga penguatan ekonomi masyarakat melalui industri atsiri Indonesia.