MINAHASA – Universitas Negeri Manado terus memperkuat komitmennya dalam pengembangan pertanian berbasis riset melalui panen perdana tanaman nilam dan penanaman puluhan pohon kelapa Genjah di lingkungan kampus, Jumat (26/9/2025). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-70 Unima sekaligus mendukung program pembangunan berkelanjutan dan penguatan sektor pertanian daerah.
Panen nilam yang dilaksanakan di depan Gedung Pancasila Unima dilakukan bersama Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, pimpinan universitas, serta tim pengelola nilam Unima yang dipimpin Arrijani dan James R. Sumayku. Kegiatan ini menjadi tonggak awal pengembangan tanaman atsiri di lingkungan kampus sebagai bagian dari integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Usai panen, rombongan meninjau fasilitas penyulingan nilam dan Atsiri Business Center di Jurusan Biologi FMIPAK Unima untuk melihat langsung proses pengolahan daun nilam menjadi minyak atsiri bernilai ekonomi tinggi. Saat ini, Unima telah memiliki dua unit penyulingan dengan kapasitas produksi mencapai satu ton, yang diharapkan dapat menunjang pengembangan riset dan hilirisasi produk berbasis tanaman atsiri.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman 70 pohon kelapa Genjah secara simbolis di area depan Gedung Training Center Unima. Jumlah pohon yang ditanam merepresentasikan usia ke-70 Unima, sekaligus menjadi simbol komitmen kampus dalam mendukung pengembangan komoditas unggulan Sulawesi Utara.
Menurut Arrijani, penanaman kelapa tersebut merupakan bagian dari instruksi pimpinan universitas untuk memperkuat pengembangan riset pertanian terpadu yang memiliki nilai ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
“Kelapa merupakan identitas Sulawesi Utara sebagai daerah nyiur melambai. Melalui program ini, Unima ingin menghadirkan model pertanian terpadu yang mampu mendukung green energy, penguatan ekonomi masyarakat, serta pengembangan inovasi berbasis riset,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penanaman kelapa di lingkungan kampus tidak berorientasi pada produksi komersial semata, tetapi lebih diarahkan sebagai laboratorium hidup bagi pengembangan penelitian dan inovasi pertanian. Salah satu konsep yang tengah dikembangkan adalah integrasi penanaman nilam di bawah tegakan kelapa untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani.
Menurutnya, kombinasi tanaman kelapa dan nilam justru memberikan potensi ekonomi yang lebih besar apabila dikelola dengan baik. Selain meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan, pola tanam tersebut juga dapat membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Meski harga nilam di pasar global mengalami fluktuasi, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha diyakini dapat menjaga stabilitas serta meningkatkan daya saing produk atsiri lokal. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bentuk implementasi model pentahelix dalam pengembangan sektor pertanian di Sulawesi Utara.
Melalui program pengembangan nilam dan kelapa ini, Unima diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan ekonomi daerah berbasis sumber daya lokal. “Yang dibangun bukan sekadar kegiatan menanam, tetapi ekosistem pertanian hijau yang produktif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing,” tegas Arrijani.


